banner 728x90

Pengalaman Ikut Magang Bakti BCA 2017 (Ikut lagi tahun depan? Siaaaap!)

banner 728x90

Halooo selamat siang para pembacaku yang entah ada atau tidak ada.

Lama sekali gak nengokin blog gak terang ini karena memang lagi fokus banget untuk menembus perusahaan buat kerja sebelum puasa tiba. Huhu.

Oke, sesuai judul dan tanpa banyak basa basi gua akan menuliskan pengalaman atas apa yang baru saja terjadi tiga hari yang lalu.

Pertama, kalian yang nyasar kesini absolut tahu dong apa sih acara magang bakti dari BCA? Yes, gak perlu dijelasin lagi yaa. Diatas udah gua upload foto penjelasan dikit dari web BCA nya juga. Dan dibawah ini tambahannya.

​

Sebenarnya gua udah tahu acara ini semenjak lama. Kayaknya setahun setelah lulus SMA deh. Cuma ketika – ketika itu masih masuk ke waktu dimana gua sangat gak pede dengan nilai sendiri. Jadilah berhubung persyaratan magang bakti BCA untuk lulusan SMA nilai rapor semester 5 dan 6 minimal 6.5, maka gua mundur.

Eh tahun ini tahu – tahu lewat di beranda sosmed bahwa magang bakti dibuka lagi tahun ini sampe bulan lima. Dengan berbekal nekat, okelah gua daftar. Dan disini gua baru menemukan ternyata nilai rapor gua di semester tersebut ialah 8,1 😐 .
Daftar lah gua kesitu.

​​
​Link: http://karir.bca.co.id/peluang-karir/magang/

Isi form nya gak sulit kok. Semua dengan bahasa Indonesia dan tinggal diisi sesuai identitas kalian. Mudah banget.

Lanjutt…

Saat gua apply, gua pakai wifi bapak dan udah wanti – wanti bilang, jangan terlalu berharap ya. Takut ngecewain. Karena gua pikir, yang daftar absolut banyak banget. Yang nilai rupawan bukan gua doang. Yang rupawan juga absolut lebih banyak, terang lah. Ini kan buat posisi CSO atau Teller yang keduanya memiliki peran di depan eksklusif bertatapan dengan nasabah tercinta. Jadi wajar gua berpikiran bahwa selain cerdas – cerdas, calon anggota magang bakti ini musti punya penampilan yang good looking.

Singkat cerita, dua minggu kemudian gua dapet email panggilan untuk interview di sebuah perusahaan yang katanya anak perusahaan BCA. Gua memang ngelamar ke perusahaan tersebut lewat jobstreet. Gua kepoin sana sini hingga kontak mantan pegawainya. Dan… ya itu memang bener kok masih dibawah BCA juga.

Gua dapet panggilan untuk posisi Costumer Service Officer. Cerita disini lumayan menarik dan mau gua pisah aja ke post selanjutnya dengan judul pengalaman melamar lewat jobstreet.

Interview pun selesai. Dan mbak rupawan yang interview bilang bahwa data gua akan dibawa ke BCA.

Sepulang dari sana, gak berharap banyak sih. Secara yang interview bareng gua semuanya kece. Ceweknya rupawan – rupawan pake blazzer dan rok hitam, cowoknya tampan – tampan dan jangkung. Akumah apa atuh :(.
Dan dua hari kemudian…
​​


Sumpah pengen nangis rasanya. Iya, gua tau gua lebay. Soalnya setelah baca – baca pengalaman yang lain sampe baca tuntas thread magang bakti di kaskus yang ratusan halaman itu dan baca semua pengalaman orang abis tes magang bakti di google, katanya asal syarat memenuhi aja kita absolut dipanggil haha.
Lama – lama perjuangan kepoin soal tes ke google tersebut malah membuat gua makin gak damai. Mengingat kawasan dimana gua harus datang untuk psikotes yaitu sebuah gedung tinggi dan katanya lantai recruitment nya sendiri ialah di lantai 21. Ad interim gua sangat bermasalah sama yang namanya lift.

Gua gak akan cerita bagaimana rasanya, karena orang biasa gak akan paham. Paling nganggap gua gak mampu mencet tombolnya. Enggak gengs, bukan gitu.

Gua pun memutuskan tembokin muka pake semen biar gak malu buat konsultasi sama qaqaq Gambaran calon psikolog dan penulis handal hehe. Gua curhat bagaimana persoalan gua dan apa yang harus gua lakukan biar mampu damai belajar soal psikotes, bukannya khawatir soal lift ini.

Akhirnya h-3 gua udah mulai damai berkat sugesti dari beliau. Berhubung kita memang gak tatap muka, qaq Gambaran gak mampu menyarankan lebih lanjut apa yang mesti gua perbuat. Gua cuma perlu coba beberapa pilihan darinya kalau nanti disana harus naik lift. Dan… oke siap!

Interview jam 8 di Wisma Slipi Jakarta Barat. Gua berangkat dari Bekasi. Seminggu lalu gua ke Jakarta untuk interview itu berangkat jam 4.30 sampe kantor di Jakarta Sentra jam 10.23 alias telat hampir satu jam setengah. Ditambah berita yang gua dapet dari kakak – kakak taksi online, tol Jakarta lagi gak bersahabat akhir – akhir ini. Gua harus berangkat jam 4 gak pake nawar.

Akhirnya, di hari H gua bangun jam setengah tiga. Ngecas, dandan, siap jam 3, ternyata order taksi online gak ada yang pick up. Padahal berita dari kakak – kakak itu jam segitu udah ada kok. Kayanya emang karena ini rumah gua terlalu terpencil juga sih.

Kelamaan, gerahlah bapake. Dianter deh gua sama mama ke lampu merah terdekat untuk stop taksi. Sepanjang perjalanan gua membaca kembali materi soal tes psikotes buat bank yang sudah gua rangkum dalam buku mungil sampul batik yang gua punya. Setelah transit(?) dan nemu taksi, gua serta mamih meluncur ke Jekardah.

Taunya dua menit jalan, macet pun dimulai.

Lemas, ngantuk, cemas datang lagi dan pasrah berserah. Gua cuma mampu tersandar lemas di taksi sambil makan permen dan perlahan terlelap.

Entah apa yang terjadi, saat mata gua terbuka dan permen habis dua secara gak sadar, melek – melek mata udah lihat gedung – gedung tinggi.

Jam baru menawarkan pukul 6 pagi.

Jalanan lancar. Padat memang tapi bener – bener lancar.
Tiga belas menit kemudian taksi berhenti depan gedung Wisma Slipi.

Gua dan mommy tercinta nge teh dulu di warung pinggir, makan gorengan, kalem.

Jam 07 lewat lima gua lihat banyak pemuda pemudi dengan celana hitam baju putih yang mulai masuk gedung. Gua menyalami mamih, minta doa, masuk ke gedung. Salah gua sendiri, lupa tujuan gua kesini apa. Gua sibuk takut sama lift alih – alih berharap lolos hingga tahap akhir. Duka jika diinget – inget mah.

Diarahin masuk gedung sama satpam, gua bertemu neng geulis dari Bogor yang lupa namanya. Katanya dia sempet nyasar juga dan kita terengah – engah menaiki tangga ke lantai dua. Yes, anda gak salah baca. Beneran tangga. Bukan lift.

Sebelum masuk ruangan, kita disuruh antri denggan tertib. Lihat nama kita yang ditempel di pintu dan hapalkan nomor absennya. Gua mendapat nomor 119 waktu itu.
Kita semua diarahin untuk briefing terlebih dahulu di ruang 206.

Dijelaskan disitu syarat untuk mengikuti seleksi magang bakti BCA. Mirip pria wanita usia 18 – 24 tahun, belum menikah atau tidak sedang dalam status menikah, sedang cuti kuliah atau waktu kuliahnya di pindah. Sorry yang terakhir agak lupa soalnya gua gak kuliah jadi gak nyimak. Yang musti ditekenin ialah usia dan status jangan bohong yah!

Jangan lupa KTP asli ditangan karena saat interview nanti kita wajib kasih pinjem KTP asli kita.
Setelah briefing (nyaris seluruh peserta psikotes sudah siap dengan pulpen dan pensil diatas meja) ternyata proses pertama ialah interview. Jadilah kita masuk – masukin lagi ini barang ke tas dengan deg – deg an mulai memuncak.

Ada sekitar tiga ruang jika gak salah yang dipakai untuk tes interview. Satu persatu dipanggil nomornya untuk melaju ke ruangan yang ditentukan. Gua mendapat ruang 205.

Di ruangan itu paling ada 20 orang kira – kira. Bangku nya berjajar rapi dan kita semua menghadap pintu sementara para peng interview(?) Ada di belakang kita.

Gua duduk di jajaran paling belakang, berdampingan dengan tiga cewek kece yang kemudian kita kenalan. Ada Untari, Tri Gita dan Ima. Maaf ya shay jika namanya salah. Sama – sama gugup kita. Pikirannya agak melayang.

Ketika itu gua bersyukur. Di setiap ruangan terdengar musik sayup – sayup. Dan musik selalu memiliki pengaruh besar bagi gua, dalam hal ini gua jadi mampu damai bahkan gak deg – deg an sama sekali.

Satu persatu nomor dipanggil. Ada yang keluar dengan lesu, ada yang biasa aja taunya bawa formulir tanda lolos di tangannya. Tiba giliran sahabat disamping gua dan dia lolos. Eh disini kita dipanggil tak terencana ya. Jadi gak tahu nih abis ini siapa.

Setelah 7 orangan yang maju, 119 pun kesebut. Inget banget gua menghadap abang – abang rupawan yang duduk di pojok ruangan yang menyambut dengan senyum. Lalu kasihin KTP.

Mirip yang gua bilang, gua sangaat damai. Gua begitu pede. Gua begitu bahagia, ceria dan menjawab semua pertanyaan tanpa terbata – bata mirip biasanya.

Pertanyaannya sendiri hanya sekitar soal prestasi, pengalaman, kelebihan dan kekurangan aja.
Gua masih sangat begitu damai hingga akhirnya abang itu bilang gua gak lolos dan mampu coba tahun depan.

Gua masih tersenyum ceria. Gua ambil kembali KTP. Menyalami dengan semangat. Kembali ke kursi gua untuk ambil tas dan sempat – sempatnya senyum sama rekan sejajaranku yang gua gak tahu gimana nasibnya.

Gua pun keluar ruangan. Belok kiri untuk mencari tangga turun. Bareng juga sama mbak – mbak baju pink. Masih ngobrol dengan kalem dan pede.

Gua belok kiri keluar Wisma, mendapati emak duduk bersama dua orang bapak yang katanya nganter anaknya dari Banten.

β€œMah, gak lolos” kata gua waktu itu dengan nada sendu seakan baru sadar apa yang terjadi.
Kita nunggu bis. Ngobrol dikit. Lama – lama kok baru kerasa duka ya?

Ibarat tangan kita kena cium silet. Pertamanya kayak pengen ketawa terus paling bilang, β€œyah kena silet!”

Beberapa ketika kemudian baru deh kerasa sakitnya.
Ini baru jam delapan lebih dikit.
Oh myy, sayah bahkan belum sempet ngerjain soal yang sayah pelajari di rumah. Itu segala macem tes yang orang – orang magang bakti kasih tahu di postingan blog mereka. Yang dirangkum berlembar – lembar dengan rajinnya. Bahkan pensil HB yang disyaratkan pun belum menggores kertas sedikitpun.
​
Drama banget hidup sayah yah wkwk. Sumpah deh emang rasanya begitu banget pada waktu itu. Dada sesak, kepala muter – muter mikirin gua salah jawab yang mana ya? Sebelumnya gua memang terang memikirkan jawaban yang sempurna untuk interview. Dan gua sudah cukup pede dengan semuanya. Tapi… ah. Justru itu dia. Gua sangat kepedean hari ini. Dan fokus gua terbagi sama ketakutan soal lift.
Tahu gak, gua mikirin soal lift ini sampe nangis – nangis malem – malem. Takut banget sumpah, gak tertahankan. Padahal, hellooow lo siapa ngira bakal diajak ke lantai 21. Emang lo lolos?!
Jika dipikir – pikir sekarang jadi lucu sih. Gua bertanya – tanya sama diri gua sendiri, apa sih tiiif yang lo pikirin? Kenapa siiiih? Ahelaah haha.

​
Dengan bermuram durja, gua nunggu bis. Taunya gua sama mama salah jalur. Ke Bekasi musti nyeberang.
Jadilah dengan pletak pletok menggelikan gua dan mommy melewati jembatan penyeberangan itu. Sesampainya disana, bis gak kunjung datang. Mommy sudah heran kenapa itu bis lewat tengah semua gak ada yang lewat pinggir. Jadilah kita nyeberang lagi ke tengah alias menuju jalur busway.
Nanya sama mbak penjaga, katanya bis ke Bekasi gak lewat situ. Dengan setengah napas tersisa kita bualiik lagi ke seberang. Dasar norak yak. Ginilah ke Jakarta maunya nebeng sama bapak doang.

​​​

Di jembatan, sempat – sempatnya gua berhenti buat foto tuh gedung. Sejujurnya ada satu penyesalan yang mau gua sampaikan ke emak tapi malu. Jadilah gua masih diem hingga sekitar lima belas menit kemudian kita nemu bis ke Bekasi.
​

​
Foto lagi dari bis. Sambil berkaca – kaca, hahah. Bocah… bocah…
Ketika itupun gua memberikan apa yang mengganjal di pikiran gua semenjak tadi, β€œmah, ani pengen ke lantai dua satu.”
Emak be like, β€œtuhkaaaan makanya doanya jangan bla bla bla…”
Omongan yang persis gua omelin ke diri sendiri.
Huh menyedihkan yes.
Sekarang nih gua kasih rangkuman atas berita dan tips atas pengalaman gua kemarin. Scroll down!

.

.

.

Magang Bakti itu mampu diikutin sama siapa?

Pria wanita yang berpenampilan menarik, usia 18 – 24 tahun, min lulusan SMA dengan nilai rapor semester 5 & 6 6.5 dan belum pernah menikah dan bersedia untuk tidak menikah selama masa Magang.
.
.

Dokumen aja yang dibutuhin untuk daftar?

Baku sih. Siapin aja ijazah, rapor, SKCK asli dan masih berlaku, KTP, NPWP dll. Semakin lengkap semakin rupawan. Lagipula lengkapin dokumen juga rupawan buat kalian jika ngelamar ke kawasan lain.

.
.

Penampilan harus menarik? Minimal tinggi badan berapa?

Yang gua lihat di google sih harusnya menarik. Walau pas briefing gak disebut soal itu. BCA sendiri gak mematok minimal tinggi badan kok buat para peserta magang bakti. Perlu dicatet juga, menarik disini bukan berarti kalian harus rupawan putih mengkilap(?). Tapi mungkin lebih ke wajah yang sehat, senyum manis dan ikhlas, badan juga sehat, baju rapi, ramah, wangi, rambut rapi. Logikanya aja kita kerja di restoran biasa aja musti gimana, ini kerja di bank loh. Dan berpenampilan menarik juga bukan berarti kalian harus berubah jadi centil atau gimana, justru ini lebih menuntut kalian untuk jadi diri kalian versi lebih baik lagi.

.
.

Tips nya dong!

Berhubung gua gak lolos satupun tahap selain seleksi administrasi, gua cuma mampu kasih liat kesalahan gua di post atas biar mampu kalian ambil pelajaran untuk gak melakukannya.

Kalian harus yakin sama diri sendiri, fokus, berdoa terang utama, persiapan yang mateng, tidur cukup sebelum interview, makan dulu, belajar juga. Kali aja lolos ke tahap selanjutnya.

—–

Baiklah, hanya segitu aja yang mampu gua bagi. Sejujurnya gua berharap mampu menulis pengalaman sukses gua disini, bukan pengalaman gagal huhu.

Tapi gak apa – apa. Gua percaya ada agenda yang baik dari Yang kuasa dibalik ini semua.

Semua ujian semua tantangan gua terima bertubi – tubi menuju Jakarta. Semua persoalan yang gua hadapi membuat gua berpikir, Yang kuasa mau lihat sejauh mana gua berusaha. Mampu kalian lihat pengalaman orang yang sukses magang bakti gak ada yang mudah. Salah satunya kisah kak Juan yang sangat memotivasi gua untuk bangkit.

Lucunya, sebuah acara yang tadinya gua lewati setahun karena gua rasa ini pekerjaan yang mampu gua dapat di kawasan lain, sekarang seakan jadi sebuah cita – cita dan cita-cita.

Tahun ini, gua kurang pede di berat badan yang agak overweight, gua kurang fit karena katanya gangguan yang kerasa dalem lift juga yang akan terjadi darah rendah yang salah satu penyebabnya tidur telat, gua juga banyak terlalu pede akan lolos seakan gak perduli sekitar. Seakan gak sadar bahwa diatas langit masih ada langit.

Ini ialah pengingat, teguran dan pengalaman yang berharga banget bagi gua.

Dua belas bulan kedepan mampu gua gunakan untuk bertransformasi. I will be a better me dan satu cita-cita sayah.

Bukan hanya lulus interview atau psikotes aja. Tapi pakai ID card dengan goresan pena magang bakti yang juga tertera nama seorang tifany.
Ngelamar lagi tahun depan? Siaap!
​
​

Advertisements

banner 728x90
Taufan Rizki Hutapea
saya adalah seorang website develover di sebuah perusahaan yang bekerja separuh waktu

Related Post "Pengalaman Ikut Magang Bakti BCA 2017 (Ikut lagi tahun depan? Siaaaap!)"

GrafiTalk Software Pendatang Baru Yang Canggih
Logo Software GrafiTalk GrafiTalk adalah media umum
Belajar Microsoft Excel Mudah Dan Cepat
Belajar Microsoft Excel Mudah dan Cepat adalah
Cara Mempercepat Kinerja Komputer Windows Tanpa Aplikasi
Cara Mempercepat Kinerja Komputer Tanpa Aplikasi dengan
Review New Album of AKMU (Akdong Musician) – WINTER 03012017
First Impression: Ini akan cocok jadi sahabat
banner 728x90

Leave a reply "Pengalaman Ikut Magang Bakti BCA 2017 (Ikut lagi tahun depan? Siaaaap!)"